Tampilkan postingan dengan label Tata Cara Thoriqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Cara Thoriqoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 14

Belajar Tashawuf dengan Thoriqoh (Bag.4)


Dasar sikap jama’ah
Setiap perkumpulan atau jama’ah pasti mempunyai sikap dasar yang harus dimengerti oleh anggotanya. Perlunya agar ketika mereka melangkah, senantiasa tetap dalam frame asas yang dianut. Jika saja suatu organisasi tidak mempunyai tata laksana yang jelas maka besar kemungkinan akan timbul sikap keterlepasan kontrol pada perilaku beberapa individunya. Untuk itu dibawah ini kami sampaikan beberapa dasar sikap dari jama’ah thariqah As-Syadziliyyah.

1. Iltizamut Taqwa Bi Tarkil Muharramat (Menekankan ketakwaan dengan cara meninggalkan perkara – perkara yang dilarang oleh syar’i).
Jama’ah As-Syadziliyyah harus dapat menjaga kewajiban – kewajiban syar’i dengan cara jangan sampai melakukan perbuatan yang melebihi batas serta dapat merusak ibadahnya sendiri. Misalnya saja dengan cara tidak melakukan tindakan suka memaki orang lain serta dengki terhadap selainnya. Karena dua perbuatan itu bersifat merusak. Dan kedua perbuatan tersebut juga jelas – jelas dilarang oleh syar’i. Sikapnya senantiasa ingin terhadap kesungguhan bersama Allah Swt dalam setiap perbuatannya. Syadziliyyin harus mementingkan lebih banyak hal – hal yang tidak dianggap jelek dari sisi kemanusiaan daripada hal – hal yang dianggap negative. Karena langkah yang demkian bagi As-Syadziliyyah tidak akan dapat dilakukan oleh seseorang terkecuali orang tersebut memiliki rasa khaufullah (takut terhadap Allah Swt).
2. Al-‘Amal Bil Asbab (Bekerja dengan beberapa sebab).
Memiliki pekerjaan jelas yang dapat menyempurnakan ketakwaan serta melanggengkannya. Itulah maksudnya. Jadi pekerjaan – pekerjaan yang nampak jelas kesyubhatannya harus dijauhi. Karena pekerjaan yang demikian (nampak kesyubhatannya) tidak akan dapat membawa serta menambah pada derajat ketakwaan seseorang.
3. At-Tayaqudz Limawaridil Asyyai Wa Mashadiriha (Bangkit untuk menunjukkan jalannya berbagai urusan serta sumber – sumbernya).
Syadziliyin harus hidup proaktif terhadap berbagai persoalan hidup. Karena Allah Swt tidak menyukai sikap Amqat (Klemah – klemeh)
4. Suhbatu Ahlil Ma’rifah Wal ‘Ilmi (Bersahabat dengan ahli ma’rifat dan ahli ilmu).
Ahlul Ma’rifat dan Ahlul ‘Ilmi menurut pandangan As-Syadziliyyah dapat melihat beberapa hal yang menjadi kekurangan kita. Dan mereka juga dapat menunjukkan kita kepada jalan menuju Allah Swt yang benar.
5. Mujanabatu Ahlil Ghirrah Wal Aghraz (Menjauhi orang – orang yang suka pada kelengahan dan pembangkangan).
Jama’ah As-Syadziliyah tidak diperkenankan bergaul akrab dengan orang – orang yang tidak mendorong bangkitnya semangat baik tindakan atau ucapan – ucapannya kepada jalan Allah Swt. Pergaulan itu dapat membawa karakter seseorang. Jika salah dalam pergaulan maka dapat saja seseorang berada dalam karakter yang salah.
6. Iltizamul Adab (Menekankan budi pekerti yang baik)
Tashawwuf semuanya adalah adab. Setiap waktu itu ada adabnya. Dan setiap hal itu juga mempunyai adab. Maka barangsiapa yang membiasakan diri dengan adab, dia akan sampai pada derajat Rijal.
7. I’thaul Auqat Haqqaha (Menggunakan waktu pada tempatnya)
Pemanfaatan waktu bagi As-Syadziliyyah dianggap amat penting. Karena waktu itu berjalan. Dan jika telah berlalu maka akan menjadi sulit untuk mengejarnya. As-Syadiliyah tidak respect terhadap perilaku mensia – siakan waktu.
8. Tarkut Takalluf Fil Harakat (Meninggalkan pemaksaan diri dalam setiap gerakan)
Janganlah berlebih – lebihan dalam setiap urusan, sehingga sampai memaksakan diri dengan melebihi kemampuan. Karena takalluf itu dapat membawa hasil yang kurang baik.

Demikianlah sekilas uraian belajar tasawuf dengan thariqah. Sebenarnya masih banyak hal yang perlu diketahui. Akan tetapi karena keterbatasan waktu dan ruang maka untuk sementara kita sudahi dahulu sampai disini. Insyaallah pada lain kesempatan akan kita sambung dengan pembahasan sub – sub materi dalam thariqah.

Penulis : Afifuddin bin Al-Hasani, Pengasuh Thariqah As-Syadziliyyah Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu

Belajar Tashawuf dengan Thoriqoh (Bag.3)


Asas thariqah
Setiap thariqah pasti mempunyai asas. Bagi siapa saja yang hendak masuk suatu jama’ah thariqah maka ada beberapa hal yang harus diketahui dahulu sebelum membulatkan hati untuk mengikuti jama’ah tersebut. Jangan sampai hanya karena iming – iming “sorga” kemudian terlena masuk dalam taklid buta. Diantara hal – hal yang perlu diketahui ialah asas dari thariqah tersebut. Berikut ini adalah asas thariqah As-Syadziliyyah yang penulis ketahui.
1. Al-Qur’an & Al-Hadits
Bagi jama’ah thariqah As-Syadziliyah seluruh ibadah yang dijalani harus dikembalikan kedalam koridor Al-Qur’an dan Al-Hadits. Jika menemukan pertentangan dengan nash qath’i keduanya maka jama’ah thariqah As-Syadziliyah wajib kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits dan meninggalkan hal – hal yang bertentangan dengan keduanya. Diambil contoh sederhana hal yang mungkin dapat terjadi pada diri seorang salik yang kuat dalam berdzikir kemudian dirinya sampai berhasil mencapai maratib (tataran) ru’yatus shadiqah. Ketika si dzakir ini prihatin melihat ada seorang ikhwan yang sakit, kemudian ia memperoleh ru’yah bahwa sakit ikhwannya itu dapat disembuhkan apabila si ikhwan berwudhu dengan air comberan, maka hal tersebut wajib untuk ditinggalkan. Karena apabila hal tersebut dilaksanakan sekalipun mungkin benar dapat tercapai kesembuhan namun perbuatan berwudhu dengan air najis (air comberan) itu adalah hal yang terlarang menurut Al-Qur’an atau Al-Hadits.

2. Tarkul Ma’ashi (Meninggalkan Maksiat)
Dalam kesehariannya, jama’ah As_Syadziliyyah harus meninggalkan perbuatan – perbuatan maksiat. Karena perbuatan maksiat adalah perbuatan yang dilarang oleh syar’i.

3. Fi’lul Wajibat (Mengerjakan kewajiban – kewajiban syari’at)
Menurut thariqah As_Syadziliyyah, jama’ah wajib mengerjakan kewajiban – kewajiban syari’at. Untuk persoalan tehnis fiqh, Syadziliyah tidak mengharuskan bermadzhab pada satu madzhab fiqh tertentu. Namun yang terbaik bagi para murid yang awam sebaiknya mengikuti madzhab fiqh dari guru mursyidnya waktu itu. Dan bagi As-Syadziliyyah tidak menutup kemungkinan dalam setiap generasi madzhab fiqh dari guru mursyidnya akan dapat berbeda dari guru mursyid yang sebelumnya. Hal ini karena As-Syadziliyyah memandang madzhab fiqh itu adalah tehnis ‘ubudiyah bukan ushul ‘ubudiyah. Contoh kecil, jama’ah As-Syadziliyah wajib mengerjakan shalat wajib 5 waktu. Dalam hal ini As-Syadziliyah tidak mempersoalkan apakah jama’ahnya mengikuti madzhab fiqh yang memakai qunut diwaktu shalat subuh atau tidak memakai qunut. Yang penting adalah melaksanakan shalat-nya bukan qunut atau tidaknya.

4. Itaba’us Sunanil Ma’tsurah (Mengikuti Sunnah – sunnah yang ma’tsur)
Sunnah – sunnah Rasulullah Saw itu sangat banyak. Yang meriwayatkan juga banyak. Jama’ah As-Syadziliyah diminta untuk mengutamakan mengikuti sunnah – sunnah Rasulullah Saw yang jelas ada nash haditsnya agar supaya tidak terpeleset dari rel syari’at.

5. Al Jam’u ma’allah Wa ‘adamit Tafarruqah (Senantiasa merasa bersama Allah dan tidak pernah terpisah dari-Nya)
Aplikasi dari asas yang ke-5 ini dalam thariqah As-Syadziliyyah dinamakan istihdhar, yaitu membiasakan dzikir dan fikir dalam setiap keadaan dan situasi apapun. Syadziliyyin juga harus meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan gerak dan diamnya, ucapan serta keinginannya. Dan apapun yang menimpa pada Syadziliyyin baik berupa kebaikan atau kejelekan, manfaat atau madharat, semuanya adalah ciptaan dan takdir Allah Swt.

Oleh karenanya dalam tulisan terdahulu telah kita singgung bahwa wirdul ‘am yang diarahkan ‘adad-nya oleh seorang mursyid As-Syadziliyah pada permulaan murid masuk kedalam jama’ah sifatnya adalah untuk melatih murid agar dapat terbiasa dulu dengan dzikir sehingga murid dapat mencapai tujuan takhalli, tahalli dan tajalli secara steb by step. Adapun porsinya dalam As-Syadziliyah biasanya masing – masing mursyid memberikan petunjuknya secara berbeda – beda. Karena hal ini amat terkait dengan pandangan mursyid terhadap muridnya dan keadaan murid itu sendiri.

Bersambung ke Bag IV (selesai) 

Belajar Tashawuf dengan Thoriqoh (Bag.2)


Peran penting Imam Thariqah dan Mursyid
Yang dijadikan imam (baca ; panutan) dalam setiap manhaj dzikir adalah seseorang waliyullah yang benar – benar tabahur dalam ilmu syari’at serta hakekat, sebagaimana kedudukan para mujtahid dalam ilmu fiqih. Keadaan ini tentu untuk menjaga agar para muttabi’ (pengikut) tidak salah jalan dalam melakukan ibadah. Perbedaan istinbat (metode hukum) dalam setiap madzhab fiqih jelas akan menghasilkan pula suatu hasil hukum yang berbeda.
Namun itu semua tak mengapa sepanjang dalam koridor Al-Qur’an dan Al-Hadits. Contoh, madzhab Syafi’i yang mengutamakan ijma’ sahabiy sebelum qias, akan berbeda pendapatnya dalam menetapkan basmalahnya Al-Fatihah dalam shalat apakah harus dibaca jahr atau tidak, dengan pendapat madzhab Hanbali yang lebih mendahulukun qias. Syafi’iyyah dan yang sependapat dengannya mengharuskan bacaan jahr sementara Hanbaliyah dan yang sependapat dengannya mengharuskan bacaan sir atau tidak membacanya sama sekali. Perbedaan yang seperti ini terjadi pula dalam dunia tashawuf. Interpretasi zuhud misalnya. Bagi para imam yang memakai manhaj ihsan-nya itu “An ta’budallah Ka_annaka Tarahu” mengartikan zuhud dengan mengosongkan hati dari selain Allah. Sedangkan bagi para imam yang memakai manhaj ihsan-nya “Fainnahu Yaraka” mengartikan zuhud dengan meninggalkan urusan duniawi secara keseluruhan. Para calon salik diperbolehkan memilih untuk mengikuti metode imam thariqah siapa yang paling pas bagi dirinya sebagaimana diperbolehkannya dalam memilih mengikuti salah satu dari para pemuka mujtahid fiqih yang masyhur ke’alimannya.

Agar dzikir seorang salik dapat menghasilkan faedah seperti yang diharapkan, maka taushiah – taushiah dari para imam thariqah masing – masing juga amat penting untuk diperhatikan dan dimengerti. Demikian pula petunjuk dari para Mursyid (guru pembimbing) Thariqah. Karena para mursyid yang sah serta shahih adalah penerus dari para imam thariqah. Dan ini juga untuk menghindari deviasi system yang telah dibangun secara benar oleh para imam thariqah. Karena jika tidak maka bukan hal yang mustahil akan ada metode – metode “nyleneh” yang menyimpang dari islam.

Penulis pernah punya pengalaman ditanya tentang hal – ihwal thariqah oleh seorang dosen UIN Yogyakarta. Beliau adalah alumnus Al-Azhar, Mesir. Secara umum, beliau ini sebelumnya dikenal kurang begitu respect terhadap thariqah. Namun setelah berbincang – bincang dengan penulis maka terjadilah perubahan pandangan beliau terhadap persoalan thariqah. Berikut ini adalah sebagian petikan singkat pembicaraan dengannya.
“Antum menganut thariqah apa?”
Saya jawab, “Thariqah As-Syadziliyyah”
“Apakah pandangan antum tentang thariqah?”
“Dzikrulah. Itulah intinya”
“Dalam Thariqah As-Syadziliyyah dzikir pokok apa yang diamalkan?”
“Ya sesuai dengan surat Muhammad ayat 19 ; Fa’lam Annahu Lailahaillah”
“Kecuali itu adakah selainnya?”
“Tidak ada. Yang ada hanya penyertanya seperti istighfar, tasbih dan shalawat”
“Berapakah ‘adad (bilangan) dzikir yang diwajibkan?”
“Tidak ada”
“Aneh. Belum pernah saya memperoleh jawaban seperti ini dari seorang penganut thariqah”
“Tapi inilah yang saya ketahui dalam thariqah As-Syadziliyyah”
“Saya ingin tahu alasannya”
“Begini, suatu saat ada dua orang meminta dzikir yang diwajibkan kepada Syeikh As_Sayid Abil Hasan As-Syadzili ra. Salah seorang diantaranya berkata, “Berikanlah saya dzikir yang wajib Ya Sayyidi”. Lalu bagaimanakah jawaban beliau? “Apakah aku ini seorang rasul? Hingga harus mewajibkan suatu perkara wajib? Ketahuilah. Yang wajib itu telah masyhur. Dan yang dilarang juga telah ma’lum. Maka laksanakanlah yang wajib dan jauhilah yang dilarang!!”. Begitulah taushiah beliau”
“Subhanallah. Ini adalah thariqatus syar’i. Ini adalah thariqah yang benar. Sungguh terbukalah saya. Ternyata tidak semua thariqah seperti yang ada dalam benak pemikiran saya selama ini”.
“Lalu wirdul ‘am yang diamalkan kedudukannya dalam thariqah ini bagaimana?” Dosen ini bertanya lagi pada penulis.
“Murid atau Salik diminta untuk melazimkan (membiasakan dan merutinkan)-nya minimal tiap sehabis maghrib dan subuh sesuai dengan petunjuk mursyid, tujuannya agar si Salik dapat ber-takhalli, tahalli dan tajalli secara step by step sesuai dengan maratib (tingkatan – tingkatan)-nya masing – masing”

Bersambung ke bag. III 

Belajar Tashawuf dengan Thoriqoh (Bag.1)


Sering kita dapati jika ada orang yang membaca atau mendengar istilah “tashawuf” maka dalam fikiran atau benak thariqah-1hatinya muncul suatu negative image, walau sebenarnya dia belum faham betul terhadap seluk beluk dunia itu. Tak pelak memang munculnya negative image tersebut karena dipicu oleh pengkonotasian jika orang – orang yang hidup dalam dunia tashawuf itu adalah orang – orang yang tidak dapat menerima suatu modernitas, fikirannya jumud (beku), pakaiannya dekil, miskin, hidup dalam keterbelakangan, senang dengan dunia mistik dsb. Sungguh jika pandangan tentang tashawuf seperti itu adalah pandangan yang perlu diluruskan.
Sebagian orang memang ada yang mendefinisikan tashawuf sebagai suatu aliran mistisme dalam islam. Tapi bagi yang telah mengerti tentang pokok – pokok ajaran islam, maka yang sebenarnya tashawuf itu adalah nama bagi istilah lain dari ilmu yang mempelajari tentang Ihsan.

Konon munculnya penamaan tersebut karena dahulu orang – orang yang berusaha mempraktekan tuntunan ihsan ini banyak yang memakai jubah wol yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan istilah “shuf”. Pemakainya dinamakan “Shufi” dan perbuatannya disebut “Tashawwuf”.

Sebagaimana diketahui bahwa islam mengenal 3 pokok ajaran utama, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Ilmu yang mempelajari tentang Iman kemudian dikenal dengan sebutan Tauhid, Ushuluddin atau Aqidah. Sedang ilmu yang mempelajari tentang Islam disebut dengan Fiqh. Dan ilmu yang mempelajari tentang Ihsan disebut dengan Akhlak, Tashawuf atau Thariqah. Jadi jika merujuk pada hal ini, maka pemahaman yang menyatakan bahwa tashawuf itu adalah sebuah aliran “mistisme” dalam islam jelas amat keliru.

Untuk dapat mempraktekkan Ihsan secara benar dikenal ada dua manhaj yang dapat dipilih sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Pertama, berusaha senantiasa melakukan ibadah seolah – olah berada dihadapan Allah Swt. Kedua, berusaha senantiasa melakukan ibadah seolah – olah dilihat oleh Allah Swt. Dan inilah dua manhaj tashawuf yang benar. Jadi apabila ada penerapan tashawuf dengan tidak memakai salah satu diantara dua manhaj ini jelas telah terjadi penyimpangan system. Penyimpangan inilah yang tidak benar bukan tashawuf yang tidak benar. Karena tashawuf (baca ; Ihsan) itu juga mengikuti tuntunan Rasulullah Saw.

Pada prinsipnya tashawuf tidak boleh bertentangan dengan syari’at. Oleh karenanya selain asas yang dipakai, dua manhaj diatas dapat dijadikan sebagai sebuah parameter untuk menilai apakah faham tashawuf yang dijalankan oleh seorang muslim itu benar atau tidak. Jika bertentangan dengan syari’at pasti salah. Dan jika memakai salah satu diantara dua manhaj diatas, insyaallah sesuai dengan syari’at. Bila sesuai dengan syari’at maka itulah tashawuf yang tidak melenceng dari islam.

Memenej hati adalah bidang utama yang digarap dalam tashawuf. Oleh karenanya menurut para ulama ahli tashawuf, dzikir adalah amaliah yang mesti dijalani oleh para pelaku – pelakunya (salik). Karena dengan berdzikir maka seorang salik akan dapat ber-takhalli, tahalli dan tajalli.

Takhalli adalah upaya mengosongkan atau meminimalisir diri seseorang dari perbuatan akhlakul madzmumah (perilaku tercela) seperti dengki, iri, takabur dan beberapa penyakit batin lainnya. Sedangkan Tahalli adalah menghias diri dengan akhlakul mahmudah (perbuatan terpuji). Dan Tajalli yaitu mendekatkan diri pada Allah Swt.

Cara seseorang mengolah dzikir inilah yang dikenal dengan istilah Thariqah. Ada ungkapan tentang hal ini yang terkenal dari Al-Imam Al-Qusyairi yaitu “Al-Ashlu fit Thariq Adz-Dzikru”. Artinya ; substansi pokok dalam thariqah adalah dzikrullah. Oleh karenanya jika anda mendengar istilah Thariqah As-Syzadziliyyah maka seharusnya yang muncul pada pemahaman ialah berarti suatu tunutunan metode berdzikir menurut Al-Imam Abil Hasan As-Syadzili. Thariqah Qadiriyyah berarti cara berdzikir menurut tuntunan Al-Imam Abdul Qadir Al-Jilani. Demikian dan seterusnya. Penamaan metode dzikir itu biasanya dinisbatkan kepada seorang tokoh waliyullah yang terkenal dan telah mengajarkannya kepada murid – murid beliau.

Bagi pandangan ulama ahli tashawuf, upaya seseorang dalam mengosongkan atau meminimalisir dirinya dari perbuatan akhlakul madzmumah itu akan sulit berhasil jika dia tidak melazimkan dirinya dengan dzikrullah. Karena manusia secara kodrati telah diberi oleh Allah Swt dua buah tabiat. Yaitu tabiat Malakutiyyah (tabiat yang mendorong kearah ketaatan kepada perintah ilahi) dan tabiat Hayawaniyyah (tabiat yang mengarah kepada penentangan terhadap tuntunan ilahi). Oleh karenanya agar yang mengisi pada pribadinya adalah tabiat malakutiyyah maka itu adalah sesuatu yang bukan mudah. Dibutuhkan sekali hidayah dari Allah Swt. Dan upaya terbaik mengharapkan naungan hidayah dari Allah Swt adalah dengan jalan dzikrullah lalu istiqomah.

Disebutkan dalam Al-Qur’an ;


Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat rahmat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu takut dan bersedih. Dan bergembiralah kamu sekalian dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu“. (AQ. Surat (41) Fushilat, A. 30).

Tashawuf tidak boleh bertentangan dengan syari’at. Oleh karenanya bagi ulama tashawuf muttashil (bersambung)-nya sanad dzikir dari pelaku sampai kepada shahibus syar’i yaitu Rasulullah Saw menjadi dianggap penting dan vital. Karena jika sanad dzikirnya tidak tasalsul (bersambung mata rantainya) sampai kepada Rasulullah Saw maka thariqah yang dijalaninya menjadi batal secara riwayah (batal demi hukum). Dan jika batal maka 3 buah faedah dzikir seperti yang telah disebut diatas tidak akan diperoleh oleh si dzakir (pelaku dzikir). Oleh karenanya jangan heran jika kita melihat ada beberapa orang yang mengaku menjalani thariqah akan tetapi kelakuannya masih buruk akhlak. Hal itu terjadi bukan tidak mungkin karena sanad mereka munqathi’ (terputus) serta tidak shahih, namun mereka mengaku sanadnya muttashil. Untuk itu berhati – hatilah memilih seorang mursyid (guru pembimbing). Lihat dulu backgroundnya, nasabnya, haliahnya dsb. Insyaallah dengan kehati – hatian dalam memilih maka kita akan dapat terminimalisir dari ketergelinciran.

Bersambung pada bagian II
Sumber : http://al-kahfi.net

Minggu, September 25

Siapa yang Layak Bertasawuf dan Siapa yang Tidak Layak

Segala sesuatu ada ahlinya, ada arahnya, ada tempat dan ada hakikatnya.Keahlian bertasawuf bagi orang yang mempunyai arah yang benar atau ‘arif yang mewujudkan kebenaran hakikat, atau yang mencintai dengan benar, atau pencari yang sadar, atau yang alim (berpengetahuan agama) yang diikat oleh hakikat, atau sang faqih yang diikat oleh oarah menuju kepada Allah. Bukan pada orang yang memikul kebodohan, atau mengaku-aku, atau hampa dalam pandangan analisa, atau sangat awam dengan kebodohannya, atau pencari yang yang menentang, atau orang yang menolak total untuk taklid pada tokoh-tokoh Sufi besar.
Faedah Ilmu Tasawuf
Faedahnya sesuatu adalahyang menjadi tujuan dari sesuatu itu. Sedangkan faedahnya adalah hakikatnya di awal mula dan akhirnya atau di balik keduanya.
Sebagainaya faedah ilmu tasawuf, adalah ilmu yang dimaksudkan untuk menata hati, dan mengarahkan hanya bagi Allah, jauh dari segala hal selainNya.
Sedangkan faedah fiqih misalnya, untuk menata amal, menjaga aturan, mewujudkan hikmah dibalik aturan hukumnya.
Seperti juga ilmu Ushul (Ushuluddin), dalam rangka mewujudkan keutamaan melalui bukti-bukti nyata dan merias iman dengan yaqin.
Ilmu Kedokteran untuk menjaga dan melindungi badan.
Ilmu Nahwu untuk menata bicara dan sebagainya.
Pendukung Ilmu Tasawuf dan Kemuliannya
Mengetahui faedah sesuatu dan simpulnya adalah pendorong untuk meraih cita-citanya, meraih tujuannya, karena hubungan ketergantungan hal-hal yang berguna manakala berselaras. Jika tidak malah sebaliknya yang terjadi.
Benar, bahwa muliaanya sesuatu dengan kemuliaan itu saling berkelindan. Karena itu, tak ada yang lebih utama disbanding yang berkelindan dengan ilmu Tasawuf, karena dasarnya adalah rasa cinta dan takut (khasyyah) kepada Allah swt , karena mengenalNya, dan gerbang bagi pemenuhan perintahNya.
Tujuan utamanya adalah nyatukan qalbu hanya bagi Allah Ta’ala, dank arena itulah Imam Al-Junayd ra mengatakan, “Seandainya aku tahu di bawah kolong langit ada ilmu yang lebih utama disbanding ilmu yang kita bicarakan ini dengan para sahabat kami (Tasawuf), pasti aku berjalan menuju ke sana.” Ini sangat jelas.

Kamis, September 22

Pengertian Murid

Istilah murid di dalam thoriqoh adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir dari seorang guru mursyid untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu dari aliran thoriqohnya. Atau dengan kata lain orang yang telah berbai’at kepada seorang guru mursyid untuk mengamalkan wirid thoriqoh. Dalam thoriqoh Tijaniyyah sebutan untuk para murid adalah “ikhwan.”
Di dalam dunia thoriqoh hubungan seorang murid dengan guru mursyidnya merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, karena hubungan tersebut tidak hanya sebatas kehidupan dunia ini, tetapi akan terus berlanjut sampai di akhirat kelak. Bahkan dikalangan ahli thoriqoh ada keyakinan bahwa seorang mursyid mempunyai peranan yang sangat penting didalam menyelamatkan muridnya besok dikehidupan akhirat. Oleh karena itu, seorang yang ingin menjadi murid thoriqoh, hendaknya tidak sembarangan memilih guru mursyid. Bahkan sangat dianjurkan bagi seorang yang akan berbai’at kepada seorang mursyid thoriqoh, untuk terlebih dahulu beristikharoh tentang pilihannya tersebut. Karena seorang murid itu harus bisa mahabbah yang sungguh-sungguh dengan guru mursyidnya.

Kriteria Mursyid

Seorang mursyid memiliki tanggung jawab yang berat, oleh karenanya seorang mursyid itu harus memiliki kriteria-kriteria dan norms-norma sebagai berikut;
1. Alim dan ahli didalam memberikan irsyadat (tuntunan–tuntunan) kepada para muridnya dalam masalah fiqih/syari’ah dan masalah tauhid/aqidah dengan pengetahuan yang dapat menyingkirkan segala prasangka dan keraguan dari hati para muridnya mengenai persoalan tersebut.
2. Arif dalam segala sifat kesempurnaan hati, segala etika, segala kegelisahan jiwa dan juga mengetahui cara menyembuhkannya kembali serta mempebaiki seperti semula.
3. Bersifat belas kasih terhadap semua orang Islam, terutama mereka yang menjadi muridnya. Apabila melihat ada diantara mereka yang tidak dapat segera meninggalkan kekurangan-kekurangan jiwanya, sehingga belum bisamenghindarkan diri dari kebiasaan- kebiasaannya yang kurang baik, maka dia besikap sabar, memperbanyak ma’af dan tidak bosan mengulangi nasehatnya serta tidak tergesa-gesa memutuskan hubungan murid yang seperti itu dari silsilah thariqohnya. Tetapi hendaknya dia tetap dengan penuh lemah lembut selalu bersedia memberikan bimbingan-bimbingannya kepada murid asuhannya itu.
4. Pandai menyimpan rahasia para muridnya, tidak membuka aib mereka terlebih di depan orang banyak. Tetapi sebaliknya tetap mengawasinya dengan pandangan mata kesufiannya yang tajam serta memperbaikinya dengan caranya yang bijaksana.
5. Tidak menyalah gunakan amanah para muridnya, tidak menggunakan harta benda mereka dalam bentuk dan kesempatan apapun dan juga tidak menginginkan apa yang ada pada mereka.
6. Tidak sekali-kali menyuruh para muridnya dengan sesuatu perbuatan kecuali jika yang demikian itu layak dan pantas dilakukan oleh dirinya sendiri. Demikian pula dalam melakukan ibadah yang sunnah atau menjauhi perbuatan yang makruh. Pendeknya dalam segala keadaan dan perasaan, dirinyalah yang harus menjadi contoh terlebih dahulu, baru kemudian disampaikan suatu perintah atau larangan kepada para muridnya. Jika tidak demikian kesanggupannya, maka lebih baik hendaknya dia berdiam saja.
7. Tidak terlalu banyak bergaul, apalagi bercengkerama dan bersendau gurau dengan para muridnya. Dia hanya bergaul dengan mereka sekali dalam sehari semalam dalam kesempatan dzikir dan wirid, sekaligus menyampaikan bimbingan-bimbingannya berkaitan dengan masalah syari’ah dan thariqoh dengan merujukkepada kitab- kitab yang menjadi pegangan alirannya. Sehingga dengan demikian dia dapat menghindarkansegala keraguan dan dapat membimbing para muridnya dalam beribadah kepada Allah SWT dengan amalan-amalan yang sah.
8. Mengusahakan agar segala perkataannya bersih dari pengaruh nafsu dan keinginan, terutama kata-kata yang pendapatnya itu akan memberi dampak batiniyyah pada muridnya.
9. Bijaksana, lapang dada, dan ikhlas. Tidak memerintahkan kepada para muridnya sesuatu yang menurutnya mereka tidak sanggup untuk itu dan senantiasa bermurah hati didalam memberikan pengajaran kepada mereka.
10. Apabila ia melihat seorang murid, yang karena selalu bersama-sama dan berhubungan dengannya lalumenampakkan ketinggian hatinya maka hendaknya segera dia perintahkan si murid tersebut pergi berkholwat (menyendiri) ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat dengan dirinya.
11. Apabila dia melihat kehormatan dirinya dirasa berkurang pada perasaan dan hati para muridnya, hendaklah ia segera mengambil inisiatif yang bijaksana untuk mencegah hal tersebut. Karena berkurangnya rasa percaya dan rasa hormat seorang murid kepada guru mursyidnya adalah merupakan suatu keburukan yang membahayakan bagi pribadi si murid.
12. Memberikan petunjuk-petunjuk tertentu dan pada kesempatan–kesempatan tertentu kepada para muridnya untuk memperbaiki ahwal (perilaku dan keadaan) mereka.
13. Memberikan perhatian yang khusus pada kebanggaan rohani yang sewaktu-waktu timbul pada diri para muridnya yang masih dalam bimbingan dan pengajaran. Kadang ada seorang murid yang menceritakan suatu ru’yah (mimpi) yang dilihatnya, mukasyafah (tersingkapnya hal-hal ghaib) yang terbuka baginya dan musyahadah (menyaksikan hal-hal yang gaib) yang dialaminya, yang didalam semua itu terdapat hal-hal yang istimewa, maka hendaklah dia berdiam diri dan tidak banyak menanggapi hal tersebut. Sebaliknya, dia berikan kepada murid tersebut tambahan amalan yang dapat menolak sesuatu yang tidak benar. Sebab jika dia menanggapinya, dikhawatirkan justru akan terjadi sesuatu yang dapat merusakkan jiwa dan hati si murid. Karena memang seorang murid thariqoh bisa sewaktu-waktu mengalami peningkatan rohani, tetapi sering terjadi hal-hal yang tidak benar yang bisa menurunkan martabatnya kembali.
14. Melarang para muridnya banyak berbicara dengan kawan-kawannya kecuali dalam hal-hal yang bermanfaat, terutama melarang mereka membicarakan karomah- karomah atau wirid-wirid yang istimewa. Karena jika dia membiarkan hal tersebut, lambat laun si murid bisa menjadi rusak karenanya, sebab ia akan bertambah takabbur dan berbesar diri terhadap yang lainnya.
15. Menyediakan tempat berkholwat yang khusus bagi para muridnya secara perorangan, yang tidak setiap orang boleh masuk kecuali untuk keperluan khusus. Begitupun dirinya, juga menyiapkan tempat berkholwat khusus untuk dirinya dan sahabat-sahabatnya.
16. Menjaga agar para muridnya tidak melihat segala gerak- geriknya, tidak melihat cara tidurnya, cara makan minumnya dan lain sebagainya. Karena yang demikian itu, sewaktu-waktu bisa saja akan justru mengurangi penghormatan si murid kepadanya.
17. Mencegah para murid memperbanyak makan, karena banyak makan itu bisa memperlambat tercapainya latihan-latihan rohani yang ia berikann kepada mereka. Dan kebanyakan manusia itu adalah budak bagi kepentingan perutnya.
18. Melarang para muridnya berhubungan aktif dengan mursyid thariqoh yang lain, karena yang demikian itu acap kali memberikan akibat yang kurang baik bagi mereka. Tetapi apabila ia melihat bahwa hal itu tidak akan mengurangi kecintaan para muridnya kepada dirinya dan tidak akan mengguncangkan pendirian mereka, maka yang demikian itu tidak apa-apa.
19. Melarang para muridnya terlalu sering berhubungan dengan penguasa dan pejabat tanpa adanya keperluan tertentu, karena hal ini akan dapat membangkitkan dan membesarkan nafsu duniawi mereka serta membuat lupa bahwa mereka dididik berjalan menggapai kebahagiaan akhirat yang hakiki.
20. Menggunakan kata–kata yang lemah lembut serta menawan hati dan fikiran dalam khutbahnya. Jangan sekali-kali khutbahnya berisi kecaman dan ancaman , karena hal itu akan dapat membuat jiwa para muridnya jauh darinya.
21. Apabila dia berada di tengah para murid-muridnya, hendaklah ia duduk dengan tenang dan sabar, tidak banyak menoleh kanan kiri, tidak mengantuk apalagi tidur, tidak menjulurkan kaki di tengah pertemuan, tidak memejamkan mata, tidak merendahkan suaranya ketika berbicara dan tidak melakukan hal-hal yang kurang etis lainnya. Karena semua yang dilakukan itu akan diikuti para muridnya yang menganggapnya sebagai contoh-contoh yang mesti mereka tiru.
22. Tidak memalingkan muka ketika ada seseorang atau beberapa orang muridnya menemuinya. Ketika akan menoleh ke arah lain, dipanggilnya muridnya itu meskipun tidak ada sesuatu yang akan dipertanyakan. Dan bila mendatangi para muridnya, dia tetap menjaga etika dan sopan-santun yang sebaik-baiknya.
23. Suka menanyakan muridnya yang tidak hadir pada pengajarannya dan mencari tahu sebabnya. Apabila murid itu sakit dia segera berusaha menengoknya. Apabila sedang ada uzur, maka ia kirimkan salam kepadanya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...